Haidar Bagir: Peradaban di Baghdad Sulit Dipulihkan

Haidar Bagir: Peradaban di Baghdad Sulit Dipulihkan

SUMBER: Republika Online

Salah seorang yang paling masygul ketika melihat penghancuran dan penjarahan benda-benda bersejarah dan buku-buku klasik di haidar bagirsejumlah museum dan perpustakaan di Baghdad adalah Dr Haidar Bagir. Ia tak habis pikir mengapa pasukan AS yang dikenal sangat terpelajar itu membiarkan saja penjarahan dan penghancuran khazanah peradaban dunia, terutama Islam, itu.

Kemasygulan Haidar bisa dimaklumi lantaran sejak mahasiswa ITB Bandung ia sudah bergelut — membaca dan menulis — dengan buku, termasuk buku-buku klasik karya ulama terdahulu. Minatnya pada buku itu bahkan kemudian ia lampiaskan dengan merintis penerbitan buku dengan bendera Mizan. Hingga kini, memasuki usianya yang ke-20, Mizan sudah menerbitkan ribuan judul buku baik terjemahan maupun karya orisinil.

Berikut petikan wawancara Republika dengan Direktur Utama Kelompok Penerbit Mizan Haidar Bagir di sekitar penghancuran dan penjarahan benda-benda bersejarah dan buku-buku klasik yang tersimpan di sejumlah museum dan perpustakaan di Baghdad. Juga tentang peran buku dalam kemajuan suatu bangsa.

Apa komentar Anda dengan hancurnya pusat-pusat ilmu di Baghdad seperti universitas dan perpustakaan?
Tak ada seorang terpelajar pun yang tidak masygul melihat betapa khazanah kesejarahan dan intelektual sebuah negeri yang begitu kaya mesti musnah dalam hitungan jam. Apalagi sejarah intelektual Irak berakar hingga sedikitnya belasan abad sebelum Masehi, bukan hanya ke  masa Alexander Agung ataupun perpustakaan Sippar dari abad ke-4 sebelum Masehi,  bahkan hingga sejauh peradaban Sumeria dari sekolah di Mesopotamia kuno pada 2.500 hingga 1.600 sebelum Masehi.

Inilah suatu kehilangan yang tak bisa dipulihkan bagi bukan hanya kaum Muslim, bukan hanya bangsa Arab, melainkan kemanusiaan pada umumnya. Juga, ini bukan sekadar kehilangan bagi dunia seni dan perpustakaan, melainkan terutama bagi upaya umat manusia untuk terus meraih kemajuan dalam peradabannya, antara lain dengan belajar dari sejarah masa-lampaunya.

Apakah Baghdad selama ini masih menjadi kiblat ilmu, terbukti dengan masih banyaknya pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di sana?
Boleh jadi saat ini Baghdad atau Irak bukanlah pusat keilmuan terkemuka di dunia Arab atau Islam. Kita mungkin bisa menyebut Mesir, mungkin juga negara-negara Maghrib, dan Iran sebagai pusat intelektual yang lebih hidup. Bisa jadi ini hanyalah kesan yang muncul akibat penindasan oleh Saddam Husein yang menghambat kreativitas.

Meskipun demikian, tak ada yang membantah bahwa Irak masih menjadi rahim yang subur bagi perkembangan intelektual, dan kemungkinan besar akan melahirkan banyak pemikir, seniman, dan sastrawan di masa-masa yang akan datang. Khususnya jika di masa depan Irak bisa berkembang untuk menjadi negara yang lebih demokratis. Alasannya, lagi-lagi, tradisi keilmuan dan literer telah memiliki akar yang amat panjang di Irak.

Apakah maraknya pusat-pusat ilmu (perpustakaan dan universitas) bisa dijadikan barometer kemajuan suatu bangsa?
Pernyataan, yang terkandung dalam pertanyaan di atas, nyaris telah menjadi suatu truisme: kebenaran yang tak perlu lagi didiskusikan. Meski bukan satu-satunya barometer bagi kemajuan suatu bangsa, tak ada bangsa yang bisa melestarikan kemajuannya tanpa basis ilmu pengetahuan yang kuat.

Kisah ketinggian peradaban Yunani kuno, atau Byzantium Romawi, juga Masa Keemasan Islam Abad Pertengahan, hingga keadidayaan AS dan Eropa sekarang ini, kesemuanya itu tak pernah lepas dari ketinggian pencapaian ilmu pengetahuan. Sementara, bangsa Mongol, atau Barbar, meski kuat dari segi militer, tak pernah bisa melestarikan keunggulannya karena absennya basis ilmu pengetahuan yang kuat seperti ini.

Pada masa Khalifah Harunur Rasyid, konon, kemajuan ilmu dan pemikiran mencapai puncaknya. Bisa Anda menggambarkan?
Seperti telah saya singgung tadi, bukan hanya di masa Harunur Rasyid, praktis semua penguasa dalam sejarah Islam adalah patron bagi pengembangan seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Yang biasa disebut sebagai puncaknya adalah institusi Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang dikembangakn selama kekhalifahan Al-Makmun di Baghdad. Digambarkan bahwa di dalamnya ada perpustakaan-perpustakaan yang amat lengkap, yang terdiri dari banyak ruangan penuh buku dan manuskrip, ruang-ruang untuk diskusi dan riset, dan sebagainya.

Bahkan seorang Sultan ‘kecil’ di Bukhara, Nuh ibn Manshur, memiliki perpustakaan yang bisa membuat seorang pemikir besar seperti Ibn Sina memerlukan waktu empat puluh hari empat puluh malam untuk bisa mempelajari isinya. Yang berkembang sangat pesat juga adalah institusi penerjemahan yang juga dibiayai oleh para penguasa Muslim. Banyak di antara penerjemah itu, khususnya dari bahasa Ibrani dan Suryani ke bahasa Arab, adalah para pemuka Kristen yang dibiayai oleh para penguasa itu. Hampir-hampir tak ada naskah penting dalam kedua bahasa itu yang tak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Kenyataannya, kekayaan khazanah Yunani yang luar biasa itu tak mungkin akan sampai ke pangkuan peradaban Barat kalau saja tak dipelihara dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab melalui sponsor para penguasa Muslim itu. Banyak naskah ilmiah Yunani yang sudah tak lagi ditemukan aslinya dalam bahasa Yunani, Ibrani, maupun Suryani.

Ada lagi institusi warraq yang berperan dalam meresensi dan mengkopi naskah-naskah penting tersebut untuk tujuan menyebarkan dan melestarikannya. Melewati masa pelestaraian, penerjemahan, dan pengopian itu, para pemikir Muslim telah memproduksi ratusan ribu karya penting yang telah memberikan sumbangan tak ternilai bagi kemanusiaan.

Seorang filosof seperti al-Farabi dicatat menulis sekitar dua ratusan judul. Begitu pula Ibn Sina, atau Ibn ‘Arabi. Sebagian di antaranya adalah karya-karya ensiklopedik. Yang tak kalah penting, peradaban Islam yang sama telah menjadi perintis pembangunan universitas-universitas. Kenyataannya, universitas-universitas awal di Eropa — mulai dari wilayah Sisilia dan Italia — dibangun  dengan sepenuhnya mencontoh universitas-universitas Muslim awal, bukan hanya dalam hal kurikulum dan pengelolaannya, melainkan higga ke corak-arsitekturalnya.

Bagaimana perkembangan ilmu setelah tentara Mongol membakar perpustakaan Baghdad sekitar abad 13?
Mau tak mau mengalami kemunduran. Tapi, sebenarnya kemunduran itu sudah terjadi sejak sebelum serbuan tentara Mongol. Jengis Khan dan Timur Lenk sebenarnya hanyalah pamungkas dari gejala-gejala kemunduran yang disebabkan oleh banyak faktor lain. Termasuk di antaranya, perpecahan di kalangan kekhalifahan-kekhalifahan Muslim sendiri, godaan kemakmuran yang melimpah-ruah, munculnya sikap reaksioner terhadap pengetahuan dan rasionalitas, dan sebagainya. Tak urung, penghancuran yang dilakukan oleh tentara Mongol itu telah ikut memperparah keadaan, dan mempersulit upaya untuk pemulihannya.

Amerika sebagai bangsa beradab di mana Anda pernah belajar di sana, kenapa sampai menghancurkan pusat-pusat ilmu di Irak?  Suatu perang, apakah bisa menghalalkan segala hal, termasuk menghancurkan pusat-pusat ilmu?
Sudah tentu perang tak boleh menghalalkan segala cara, kecuali mungkin bagi bangsa-bangsa Barbar primitif, atau bangsa modern yang sejatinya masih memiliki sifat-sifat bangsa Barbar. Karena itu, sungguhlah aneh melihat kenyataan bahwa kekuatan AS di Irak seperti membiarkan saja secara sengaja penjarahan, penghancuran, dan pembakaran perpustakaan-perpustakaan dan museum-museum yang menyimpan khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang tak ternilai di Irak, khususnya Baghdad.

Sungguh menyedihkan membaca laporan-laporan mengenai hal ini seperti ditulis oleh para jurnalis Barat sendiri, khususnya Robert Fisk. Begitu menakjubkannya ketidakpedulian ini sehingga Wayne Madsen, seorang jurnalis dan kolumnis investigatif yang tinggal di Washington curiga akan bekerjanya pengaruh sentimen ‘Perang Salib’ — yang pernah dirujuk Bush — dalam kejadian penghancuran khazanah kemanusiaan, khususnya Islam, ini.

Merujuk pada ajaran Islam, peperangan sama sekali tak boleh bersifat indiskriminatif. Perang, seperti diajarkan Nabi, tak boleh merusak lingkungan, mencederai rakyat sipil — khususnya wanita dan anak-anak. Apalagi khazanah ilmu pengetahuan. Dalam sejarah Nabi, seorang tawanan perang bisa bebas jika mengajar kaum Muslim ilmu pengetahuan.

Mengembangkan ilmu pengetahuan kita ketahui diajarkan Nabi sebagai jauh lebih mulia daripada ‘ibadah mahdhah. Nabi sendiri menyatakan tinta ulama lebih berharga dari darah syuhada. Dan tak terhitung banyaknya hadis-hadis dan ayat-ayat Alquran yang memujikan pengembangan ilmu pengetahuan ini.

Bagaimana mengkondisikan suatu negara/bangsa agar perkembangan ilmu semakin marak?
Di masa sekarang ini, sebenarnya tak ada bangsa atau kelompok masyarakat yang tak menyadari peran-menentukan ilmu pengetahuan bagi kemajuan, baik peradaban, bangsa, atau pun perorangan. Kalau pun masih ada kelompok tertentu masyarakat yang belum benar-benar menyadari hal ini, kisah-kisah sukses negara-negara yang maju dari segi ilmu pengetahuan dan keberhasilan-keberhasilan kaum terpelajar dapat menjadi ilustrasi tak terbantahkan bagi kampanye ke arah ini.

Negara-negara Muslim masih memiliki keunggulan lain dalam hal apresiasi yang tinggi agama yang dipeluk mayoritas penduduknya terhadap ilmu pengetahuan. Yang perlu dilakukan dalam hal ini hanyalah meluruskan pemahaman keislaman masyarakat sehubungan dengan posisi ilmu pengetahuan dan rasionalitas, membangkitkan habit serta pentingnya praktik nyata.

Persoalan yang lebih mendesak adalah, seringkali pragmatisme-individualistik mengalahkan akal sehat. KKN lebih dianggap sebagai penentu segalanya. Akibatnya, penguasaan ilmu-pengetahuan pada prakteknya belum bisa dijadikan jaminan bagi keunggulan dan keberhasilan.

Di sisi lain, pemerintahan  lepas dari retorika kosong yang banyak dilontarkan  tak pernah benar-benar memberikan perhatian kepada upaya-upaya pengembangan ilmu pengetahuan ini. Prioritas alokasi anggaran untuk keperluan riset dan pendidikan sering kali masih diletakkan di urutan buncit  belum lagi kalau kita masukkan besarnya korupsi atas anggaran yang sesungguhnya tidak besar ini.

Dengan kata lain, prioritas strategi pembangunan masih terbalik-balik. Belum lagi jika dilihat bahwa kurikulum dan metoda, serta manajemen pendidikan yang dikembangkan di negeri kita sebelum ini masih memerlukan banyak revisi, mungkin secara radikal. Lebih dari itu, seringkali cara pandang politik praktis yang mengedepankan kepentingan jangka pendek makin memperparah situasi.

Alhasil, yang diperlukan  selain kampanye-kampanye dan pemberian-pemberian insentif bagi riset dan pendidikan  adalah suatu pemerintahan yang visioner dan bersih, yang mampu mengembangkan transparansi dan akuntabilitas di segala bidang.

Penulis : ikm
REPUBLIKA – Jumat, 02 Mei 2003

Satu Tanggapan

  1. umat Islam seharusnya bangkit dengan segala kenyataan ini

Tinggalkan Balasan